Facebook Twitter RSS
Tampilkan postingan dengan label Puisi Galau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Galau. Tampilkan semua postingan

Perasaan Yang Terpuruk

Written by: Renald RHK on Kamis, 15 November 2012


Aku tidak menuntut apapun, karena aku tahu kamu tak kuat. Bebanmu terlalu berat dan cintamu tidak terlihat. Aku adalah orang asing, sekalipun aku dipicing. Tetapi seperti itulah bagimu aku sekarang. Ternyata kamu masih selalu kalah oleh keadaan. Lihat, bahkan memaksa kodok berdiri tegap masih lebih mudah daripada mengakuiku! karena setiap mereka tanya siapa aku, kamu akan terdiam, paling tidak menarik nafas. Jadi mana mungkin kamu mengundangku datang ke rumahmu yang besar, yang hanya berisikan banyak pertanyaan? kamu tidak berani, kamu gemetar, jerit hatimu tidak membangkit nyali. Bahkan untuk aku duduk bersama-sama dengan mereka di meja makan, mungkin berat piringku akan ditimbang. Nanti di acap kali aku mangangkat sendok, mereka akan melorot, menanti-nanti kesalahanku. Aku pikir tega sekali.

Sebenarnya aku ingin kamu menjadi kita, bukan kamu jadi yang terlemah di antara mereka. Karena meski kamu sanggup mencintaiku, kamu takut mengakuinya. Sakit. Dalam. Perasaanku bagai dililit-lilit dan apa yang ada di dalam mataku hanyalah kelam. Apa harus sesederhana itu untuk aku bangkit dari semua ini? Yaitu bilang saja kalau kamu tidak mencintaiku dan akan kamu anggap aku tak ada! Kemudian hening, selamanya hening. Sungguh, aku tidak hanya sangat mencitaimu, tetapi juga mampu menyayangi mereka. Namun apa aku cukup berharga di depan mata? Aku rasa aku akan dituntut lebih. Aku selalu terlihat kurang, sekalipun dicintaimu sudah lebih dari cukup. Di detik ini aku terpuruk. Sangat.

Tawa Jadi Tempat Sembunyi

Written by: Renald RHK on Senin, 29 Oktober 2012


Aku tersenyum.
Itu caraku menghias luka.
aku tertawa.
Itu caraku untuk sembunyi.

Aku jadi seringkali berhasil membuat orang tertawa di atas kedihanku, sebab kesenanganku dulu sudah banyak membuatnya sedih.
Bila aku semakin lucu, itu karena ia semakin jauh.
Mungkin ini karena banyak yang membenci aku saat dulu ia di dekat aku.

Setiap hari aku harus mencicip bayang-bayang yang pahit, setiap hari aku harus mengenyangkan kepalaku dengan itu.

Kekonyolanku adalah hal yang paling menyentuh, aku akan menunggu semua orang yang dapat memeluk aku yang tidak henti-hentinya bertingkah kocak, sampai saat aku tertawa sendiri, mereka amat terpuku.

Sementara saat-saat ini, tawa mereka hanyalah buah demi buah yang tumbuh dari caraku melarikan kepedihan.
Bila melemahkanku, mengapa tidak melelahkanku ?

Bila kemesraan mulai terkikis,

sulit mencicip sedapnya rasa,

ingatlah saat yang dulu,

kau telan tawa begitu lahap.


"Kurasa telingaku sudah kebal. Aku hanya ingin membalut mulutmu agar tidak menggigit diri sendiri. Kepalamu yang keras meremas-remas isinya sendiri. Didalam sana aku terlalu kecil, mudah remuk bagai kerupuk, Dulu kau terpaku olehku. Kini kau anggap aku paku dalam tubuhmu"

By : RHKQ

Lengkapnya Sepi

Written by: Renald RHK on Sabtu, 27 Oktober 2012

Lama tidak dengar kabarmu, bagaimanakah kamu sekarang ?
Semoga kamu dijaganya baik, jangan sampai percuma melepas aku.
Jauh dariku bukan berarti tanpa tertawa.
Meski ia tidak selucu aku, janganlah jatuh air matamu.
Meninggalkan aku sendiri di sini kan seharusnya bukan pilihan untuk bersedih sepanjang hidup.
Semangatlah untuk membuat dirimu mencintainya!

Memang sesekali aku coba mencinta dengan mencium, mendobrak pintu hatiku dengan kecupan.
Namun apa mau dikata, malah luka perasaan orang.
Apa cinta yang meledak-ledak mengancurkan hati sendiri?
Sebab setiap bunyi hantaman keras, kudengarnya bagai namamu.
Beberapa menyukaiku dengan lembutnya, hanya tak sedalam kamu mengenal aku.

Kamu lebih dari masa lalu, seperti pahlawan yang tidak mungkin hanya karena ada luka kecil, dapat terlupakan perjuangannya.
jika ada sejuta mulut yang menyoraki aku berengsek, aku percaya kamu tetap memiliki suara sendiri, Itulah!
Sesekali memang aku suka berkata bodoh, membencimu karena jauh. Sebab menyakitkan, kamu hadir untuk kuingat, seperti datang untuk pamit.

Terkadang ini yang membuatku berharap cemas, di mana kiranya keseluruhanku dapat rubuh, sehingga dari atas panggung aku terjatuh, kemudian mendarat di pangkuanmu.
Sekarang setelah semuanya ingin kumulai sendiri, tiap kepingku telah menjelma menjadi nyawa dan memberi hidup bagi tiap kata yang melengkapkan sepi setiap orang.

 

Copyright © 2012 RHKQ | Shares My Little Experiences. Design by RHK | All Rights Reserved